Entertainment, Book review , Review film & Review product

Review Perempuan Tanah Jahanam : Keseraman yang vulgar

“Kalau orang bikin perjanjian sama setan dan lahir kutukan, kutukan itu nggak bisa hilang, hanya akan berubah jadi kutukan lainnya.”

– MBAH-NYA RATIH –

Dan.., rasa penasaran pun terjawab setelah menonton film Perempuan tanah jahanam. Mengapa tidak diperbolehkan membawa anak selain izin dari Kita sebagai Orang Tua nya. Ini sih film horror, tapi bukan tentang hantu, dedemit, atau semacamnya sering Kita lihat. Dan bahaya buat anak-anak di bawah umur. Buat fames.id, “Perempuan Tanah Jahanam” film horror yang seramannya sangatlah vulgar. Nonton film ini, lebih merinding lihat sikap manusianya, dibandingkan dengan hantu dan sejenisnya. Sangat sedikit sensor untuk keseraman yang diperlihatkan. Hal ini terlihat dari film yang disuguhkan benar-benar bermain di psikologis para pemainnya. Dari minimnya sensor, psikologis di permainkan, apalagi hati dan jantung benar-benar dibuat tegang dengan segala adegan-adegan yang tersaji dari awal hingga akhir. Kebayangkan seperti apa seremnya. Magisnya bener-bener dapat banget.

Dan, Wayang kulitlah , sebagai dalang utama yang menghasilkan ke magisan film tersebut. Pastinya pada tahu wayang kulit yang sudah terkenal secara tradisional dari Jawa. Wayang yang artinya “bayangan atau roh spiritual,” karena penonton juga bisa menonton wayang dari belakang kelir atau hanya bayangannya saja. Tidak hanya itu saja, wayang yang dimainkan oleh seorang “Dalang” sebagai narator dialog wayang-wayang, serta diiringi dengan musik gamelan dan juga tembang yang dinyanyikan oleh pesinden cantik dalam wayang tersebut, merupakan satu kesatuan tontonan menarik bagi warga setempat saat menontonnya. Sama halnya dalam film ini. Dan pada tau gak? sebagian besar wayang kulit terbuat dari kulit apa jaman dulunya?

Berawal dari dua orang sahabat yaitu Dini (Marrisa Anita) dan Rahayu/Maya (Tarra Basro) yang mengadu nasib di Jakarta. Mereka melakukan pekerjaan apapun demi menghasilkan uang untuk memenuhi kebutuhan hidup. Dari bekerja sebagai penjaga tol hingga bisnis baju yang telah menguras tabungan mereka. Bukan untung yang mereka dapat, melainkan buntung. Kejanggalan-kejanggalan mulai terlihat di awal film tersebut. Maya yang menjaga pintu tol selalu mendapatkan terror dari salah satu mobil yang melintas di tempat ia jaga. Nyaris terancam nyawanya disebabkan orang asing lusuh dengan kuku yang sangat kotor dan menjijikan. Hampir setiap hari orang asing tersebut melintas di tol tempat ia berjaga.

Agak asing dengan sebutan yang Maya dapat. Dia disapa dengan sebutan Rahayu bukannya Maya oleh orang asing itu. Setelah Insiden menimpa pada dirinya yang nyaris di bunuh orang asing, yang mengoyak bagian paha kanannya, akhirnya, mereka berdua (Maya dan Dini) banting stir membuka bisnis baju dengan tabungan yang mereka miliki. Bingung dengan dagangan yang tidak laku, akhirnya mereka berdua memutuskan untuk pergi ke kampung tempat Maya dilahirkan, hanya bermodal sebuah foto sebagai petunjuk.

Tiba di Desa Harjosari, mereka pun menemukan rumah mewah sudah tertinggal lama, yang sama persis dengan foto dimiliki oleh Maya. Dan.., Dini, sang sahabat pun mulai berangan-angan dengan warisan yang akan didapat nantinya. Kejanggalan mulai terlihat kembali dengan kesunyian, bahkan jauhnya Desa Harjosari dari pemukiman lainnya. Benar-benar terletak di tempat yang sangat terpencil.

Anehnya lagi.., di depan rumah mewah yang sama persis dengan foto milik Maya, begitu banyak kuburan-kuburan anak kecil, menjadi tanda tanya mereka. Apa penyebabnya?

Pages: 1 2

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *